Izrail kembali menghadap Allah. Di tangan membawa tanah dari bumi sesuai perintah-Nya. Sesuatu yang tak mampu dikerjakan Jibril. Bukan karena Jibril membangkang, namun tak tega dengan rintihan bumi ketika tanahnya akan diambil.
Maka Allah bertanya kepada Izrail yang berhasil belaksanakan tugas, “Tidakkah kau merasa kasihan kepada bumi?”
“Ya Tuhan, aku lebih mengutamakan perintah-Mu daripada mengasihani bumi,” jawab Izrail. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk Renungan
Kala Insan Bertemu Izrail
Mengantar Almarhumah
“Kami mengenal almarhumah sejak kecil, dan selama itu kami merasakan keramahan dan kebaikan hati beliau…” suara pak RW tertahan. Isak haru seakan mencekik kerongkongan, membuatnya terdiam sesaat. Telapak tangannya bergerak perlahan menyapu pipi dan hidungnya yang basah memerah. “Kami merasa kehilangan…” Baca entri selengkapnya »
Sholat Malam Penuh Perjuangan
Udara malam terasa menusuk dari luar kemul sarungku. Seperti pecahan es batu yang menusuki sekujur tubuhku. Kutarik seprei dan kugulungkan pada tubuhku. “Den, bangun. Ingat Tuhan,” suara yang lembut tapi tegas. “Jangan jadi lunpia gitu dong. Ntar digoreng di neraka loh. Ayo bangun, sholat.”
Mataku terbuka. Kulirik ponsel yang ikut menggigil di samping kepalaku. “Jam tiga, oom,” kata si ponsel sambil menyala-nyala. “Tit..tiit…tit..tiit” Baca entri selengkapnya »
Nyaris Dikubur Masal
Perlahan aku terangkat dari pembaringan. Terasa ringan, pelan lalu terjun bebas melesat ke bawah. Kesadaranku tertinggal di belakang. Aku tidak tahu hendak dibawa kemana. Jelasnya, aku masih dalam kondisi berbaring. Saat mulai bergerak perlahan, kakiku berada di depan. Baca entri selengkapnya »
Perbedaan dan Tanggungjawab
Hidup di tengah komunitas pasti tidak akan lepas dari perbedaan. Beda pendapat dan pemikiran senantiasa menghiasi kehidupan. Itu merupakan konsekuensi logis dari perbedaan latar belakang dan karakter seseorang. Begitulah fitrah kita yang tak bisa lepas dari perbedaan. Baca entri selengkapnya »
Surat untuk Saudara Seiman
Sejahteralah Kalian dalam Lindungan Allah Yang Maha Suci
Saudaraku tercinta,
Sekiranya ruh meloncat dari jiwa adalah tebusan untuk semua dosa yang pernah kita perbuat, niscaya senyum akan mengiringi perpisahan dengan dunia. Sayangnya, kematian justru awal dirasakannya akibat maksiat. Datangnya ajal justru menjadi awal penanggungan konsekuensi pembangkangan.
Maka coba kita tengok diri sendiri. Sementara, tahanlah hasrat mengoreksi orang lain. Lihat diri sendiri, jauh ke dalam diri, lihat ke hati. Bisakah untuk becermin? Adakah cahaya Allah terlihat di sana? Adakah sedikit nur yang memantul, yang memberi kesejukan pada hati lain di sekitar? Baca entri selengkapnya »

