Arsip untuk Dakwah

Gembira di Hari Idul Adha

kurbanInilah kali pertama Idul Adha di luar rumah. Bukan apa-apa, tidak enak saja hari raya Idul Adha –apalagi Idul Fitri- tidak kumpul keluarga. Rasanya kok seperti lupa rumah setelah hidup di kota. Tapi khusus Ahad (8/12) lalu aku memang tidak pulang. Pasalnya, pekan sebelumnya aku baru pulang dan kamis depannya juga harus pulang, sepupuku menikah. Baca entri selengkapnya »

Komentar (3) »

Speech “Syumuliatul Islam” after Lunch

“Manhaj Islam seperti sebuah bangunan,” kalimat sederhana yang saya sampaikan siang itu, 22 November 2008. Mengawali ceramah bertema “Syumuliyatul Islam” di depan peserta Trainin Dasar Rohis (TDR) Rohis Fakultas Teknik Unnes, saya gambarkan perumpamaan. Lengkap dengan tampilan gambar masjid Agung Jawa Tengah yang tersorot dari LCD. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Saat Kuputuskan Berdakwah

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam. (QS Al An’am: 162)

Aku mulai mengenal dunia dakwah ketika masuk mulai kuliah. Saat itu, aku tinggal di kos binaan yang dikelola sebuah pesantren mahasiswa. Hampir semua penghuni kos adalah aktivis dakwah di kampus. Mereka aktif di kerohanian islam, lembaga kemahasiswaan dan organisasi lain. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Emosi Sesaat

“Aku tidak mau lagi di majelis, setelah ini,” katanya pelan. Aku sedikit kaget, menebak apa yang terjadi menjelang tutup buku majelis kerohanian. Hampir setahun aku memimpin, belum pernah dia berkata seperti itu. Biasanya, dia menceritakan permasalahan di kerohanian dan meminta masukan.
Statusnya di majelis adalah anggota biasa. Namun diantara anggota lain, dialah yang menunjukkan semangat kerja paling tinggi. Kalau ada tugas penting yang tidak tertunaikan, hampir selalu dia yang menyelesaikan. Baca entri selengkapnya »

Komentar (1) »

Temukan Pemimpin, Baru Visi

“Lebih bijaksana kalau kita menempatkan diri sebagai makmum dulu. Mempelajari karakteristik masyarakat dan mengenal pemimpinnya,” pesan yang disampaikan sang ustadz. Ahad sore itu, beliau membahas dakwah masyarakat di hadapan peserta pengajian. Sebagian besar adalah aktivis dakwah kampus yang mulai merambah masyarakat. Mereka nampak antusias. Ruang berkapasitas seratus orang itupun makin hidup.
Tidak ada rumus pasti dalam dakwah masyarakat,” jawab sang ustadz kepada penanya yang bersila di pojok depan. “Rasulullah mendekati Abu Bakar dengan menikahi putrinya. Walisongo dulu juga begitu, menikahi putri raja untuk berdakwah. Ada yang berniat mengikuti?” Spontan, “grrr” pun menyeruak mengalahkan bising kendaraan di luar. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »