Magnet Jakarta sebagai pusat ekonomi negera ini memang terlalu kuat. Di sanalah pusat uang berputar, denyut ekonomi berdetak. Sampai menarik orang berduyun-duyun datang. Dan setelah lama menunggu, akhirnya Jakarta memanggilku.
Perjalanan dengan kereta Senja Utama ke Jakarta pun saya lalui Selasa, (21/4) dari stasiun Tawang Semarang. Saya sendirian. Sama seperti dua tahun sebelumnya, ketika menghadiri pelatihan jurnalistik Majalah Tarbawi di jalan Pramuka Jati, Jakarta Pusat. Malam itu, saya menuju ke Jakarta lagi. Bukan untuk pelatihan, namun untuk berbisnis. Ya, berbisnis kata teman-teman. Istilah yang terlalu keren untuk pekerjaan bakul kain, tapi tak apalah untuk memotivasi diri.
Seorang pemilik butik yang tinggal di Swiss tertarik dengan kain tenun yang saya pajang di internet. Sudah beberapa bulan sebelumnya kami kontak lewat SMS. Nah, bulan April dia ke Indonesia. Jakarta tepatnya, di apartemen Sudirman Park. Saya tawarkan saja untuk menemui ke sana. Meski, awalnya dia yang akan menjadwalkan untuk ke Semarang atau Jepara. Sekalian pengalaman merambah Jakarta, pikir saya.
Menjelang subuh sampai stasiun Pasar Senen, saya istirahat sebentar. Menunggu hari terang untuk alasan keamanan. Sekaligus menjaga etika bertamu tentunya. Habiskan waktu beberapa jam di stasiun ternyata bisa membuat saya lebih familiar dengan suasananya. Juga menelpon beberapa teman kampus di Semarang membuat saya merasa di rumah sendiri. Kesan saya, tak jauh beda dengan Semarang waktu ramai. Jadi ya biasa sendirian di kota besar, tidak se-nervous dua tahun sebelumnya.
Taksi menjadi pilihan saya saat menuju daerah Karet, tempat apartemen Sudirman Park berdiri. Pertama, praktis tanpa perlu tersesat. Kedua, ini urusan bisnis. Kalau toh mau irit dengan ojek atau bajaj, pulangnya sajalah. Begitu pikirku. Tanpa argo, tarifnya Rp 30 ribu. Bukan taksi yang bagus memang. Baru saya tahu setelah ngobrol dengan si sopir, taksi yang murah yang ada tanda “tarif bawah” di kaca depannya. Memang biasanya mobilnya tidak sebagus Blue Bird dan sekelasnya.
Sampai lobi apartemen, kami ngobrol sekitar dua jam di kafe Expresso, dekat resipsionis. Sekadar tunjukkan sampel tenun dan kisaran harga. Akhirnya kami lebih banyak ngobrol perjalanan kehidupan. Juga rencananya membuka butik di Eropa dan di tempat lahir, Tulungagung Jawa Timur. Yah, kami sama-sama orang jawa. Hingga lebih sering memakai bahasa jawa selama di kare, taksi, sampai kami berpisah saat mengunjungi pameran Inacraft 2009 di Jakarta Convention Center (JCC).
Eh, saya baru tahu juga. Ternyata bahasa jawa juga punya bargain tersendiri. Jadi, para penyuka barang kerajinan menggunakan bahawa jawa untuk menawar penjual yang banyak berasal dari jawa. Oo, pantesan. Saya sempat tawar menawar via SMS dengan seorang ibu di Bekasi, dia pakenya bahasa jawa. Padahal sudah tak usahakan saya pake bahasa sana.
Hanya sehari saya di Jakarta. Sore jam empat saya sudah siap di stasiun Pasar Senen dan jam 19.10 berangkat menuju Semarang. Tapi itu cukup memberikan pengalaman bagi saya. Pengalaman fisik terutama, yang tak dapat digantikan dengan buku atau cerita orang lain.
Akhirnya, Magnet Jakarta Menarikku
3 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik


Husna Azizah berkata,
7 Mei 2009 @ 10:42 am
Jakarta tetap jakarta…. macet sumpek de el el
Muhammad Taufiq berkata,
28 Juli 2009 @ 5:32 am
Kaif haluk akhi …
Muhammad Taufiq berkata,
4 Agustus 2009 @ 12:38 am
Kunjungi saja facebook saya .. muhammad taufiq jombang