“Itu dari dulu kok perang terus,” kata Emak yang muncul dari balik tirai dengan kudapan sarapan di tangan. Suara berita TV One yang melaporkan perkembangan krisis Gaza memang terdengar sampai dapur. “Perang Israel-Palestina itu sejak Emak kecil loh.”
“Begitulah mak,” kataku sambil melirik menu sarapan.
“Sebenarnya, masalah apa to?” ujar Emak menatap gambar tank-tank Israel masuk Gaza City.
“Apalagi kalau bukan wilayah, Mak”
“O, rebutan tanah to.”
Perbincangan sarapan pagi itu pun seputar masalah Palestina-Israel. Pagi itu pula yang menggerakkanku mencari tahu lebih dalam di internet. Menurut Harun Yahya, bangsa yang memiliki bukti eksistensi pertama di tanah Palestina adalah bangsa Kanaan yaitu nenek moyang bangsa Arab Palestina saat ini. Kitab Bilangan XIII ayat 17-18 juga mengakui ada bangsa yang mendiami tahan Palestina sebelum kaum Musa. Simak, ““Maka Musa menyuruh mereka mengintai tanah Kanaan… dan mengamat-amati keadaaan negeri itu; apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak.” Artinya, waktu itu nabi Musa adalah pendatang yang menduduki tanah Palestina dari penduduk asli.
Dalam hukum internasional dinyatakan bahwa yang berdaulat atas suatu wilayah adalah mereka yang pertama kali mendiami wilayah tersebut dan menunjukkan bukti eksistensi mereka atas wilayah tersebut berupa aktivitas dan bukti-bukti fisik yang menunjukkan kedaulatan mereka atas wilayah tersebut. Karena itu, bangsa Kanaan yang merupakan nenek moyang Arab Palestina saat ini adalah pemilik sah tanah Palestina.
Tapi, coba kita simak opini kedubes Israel. Dalih sejarah yang dimuat situs resmi berbahasa Indonesia yang dikeluarkan dari Singapura. Dalam halaman tentang Zionisme, tanah Palestina yang sebut sebagai Zion disebutkan sebagai tanah kelahiran bangsa Yahudi. “Bangsa ini telah memiliki kedaulatan atau paling tidak telah menunjukkan berkebudayaan untuk selama kurun waktu 1500 tahun, membuat dan mengembangkan apa yang dikenal sebagai peradaban Yahudi,” klaim Israel.
Sekarang, Israel juga menebar opini, “Setelah berabad-abad terpuruk dan terabaikan di bawah pendudukan asing, Zion kembali bersinar sekali lagi, dengan adanya kenaikan yang besar pada jumlah penduduk Yahudi dalam waktu 100 tahun terahir, dan berhasil meraih kembali kemerdekaannya di tahun 1948.”
Dalam sejarah, Palestina sempat jatuh ke tangan Bangsa Israel pada permulaan Masehi. Pertempuran mereka dengan penduduk asli Palestina tercatat dalam kitab Samuel I, bab 13 dan 14 yang mengisahkan strategi Saul dan Yonatan yang menyerbu Michmas. “…Orang Filistin berkemah di Micmash… dan di antara pelintasan bukit-bukit yang dicoba Yonatan menyeberanginya ke arah pasukan pengawal Filistin… dan kekalahan yang ditimbulkan Yonatan dan pembawa senjatanya, besarnya kira-kira dua puluh orang dalam jarak kira-kira setengah alur dari pembajakan ladang.”
Namun, Bani Israel juga tidak ikut berperang merebut tanah palestina dari bangsa Palestina yang saat itu terkenal kuat. Begitu teks Alqur’an menjelaskan dalam surah Al Maidah (5), “Mereka berkata, “Hai Musa, sekali-kali kami tidak akan memasukinya selamanya selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan duduk menanti di sini saja.”
Pada tahun 70 M, kekuasan bangsa Israel itu runtuh seiring kematian Herodes dan masuknya kekuatan Romawi menguasai seluruh Palestina. Sejak itu bangsa Israel menjadi bangsa yang tidak memiliki tanah air dan tersebar di berbagai negara sampai mereka melakukan kolonialisasi kembali atas Palestina pada tahun 1967 M. (Richard Deason. Dinas Rahasia Israel, Jakarta, Yayasan Widya Pustaka: 1986, hal 3-4). Sementara itu, tanah Palestina menjadi tanah wakaf umat Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab pada abad 7 M setelah Romawi ditaklukkan tentara Islam.
Antara tahun 1920-1929, sekitar 100.000 orang Yahudi yang diorganisir oleh Zionis pindah ke Palestina yang berpenduduk asli saat itu 750.000 orang. Sebanyak 232.000 orang Yahudi bermukim di Palestina antara 1930-1939. Untuk memberi tempat tinggal bagi pendatang baru, organisasi Zionis menggunakan tekanan dan kekuatan untuk mengusir orang-orang Palestina. Heilburn, ketua komite pemilihan kembali Jenderal Shlomo Lahat, walikota Tel Aviv, menyatakan ,”Kita harus membunuh semua orang-orang Palestina kecuali mereka tunduk tinggal di sini sebagai budak.”
Maka menjadi tidak relevan saat Israel mencoba meraih simpati dunia dengan opini, “Sejak pengambil-alihan Gaza oleh Hamas dengan kekerasan di tahun 2007, Hamas telah menjadikan warga Israel sasaran serangan roket di dalam wilayah kedaulatan Israel sendiri, pelanggaran hukum internasional yang sangat mencolok. Serangan tiap hari, granat dan bom yang ditujukan pada penduduk sipil, dengan sekitar 90 granat dan bom mortar setiap harinya.”
Israel menambahkan,”Akankah negara-negara lain di dunia, AS, Inggris atau Singapura dapat berdiam diri setelah selama 8 tahun kota-kotanya dihujani granat ? Adakah negara yang berdiam diri melihat warga sipilnya hidup di tempat-tempat perlindungan bom selama itu ?”
Kita dapat membayangkan, seperti itulah yang dikatakan Belanda saat “penduduk sipil” mereka di Indonesia terus menerus“diteror” oleh pasukan gerilya Jenderal Sudirman, Bung Tomo dan militan Indonesia lain waktu itu. So, siapa meneror siapa sih?
Israel-Palestina, Siapa Meneror Siapa?
1 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik


Ghofur berkata,
18 Maret 2009 @ 1:15 pm
Tidak ada kata lain selain “biadab” yg patut terlontar pada Bangsa israel.Semoga benar adanya bahwa mereka adalah bangsa yg dikumpulkan untuk di laknat ALLAH Subhanahu wa Ta’ala