“Manhaj Islam seperti sebuah bangunan,” kalimat sederhana yang saya sampaikan siang itu, 22 November 2008. Mengawali ceramah bertema “Syumuliyatul Islam” di depan peserta Trainin Dasar Rohis (TDR) Rohis Fakultas Teknik Unnes, saya gambarkan perumpamaan. Lengkap dengan tampilan gambar masjid Agung Jawa Tengah yang tersorot dari LCD.
“Ada dasarnya, ada bangunannya atau bina’. Ada juga pilar atau muayyidat-nya,” lanjutku. “Tak berbeda dengan bagunan yang punya fondasi, ada tembok dan atap, ada juga pilar-pilar yang menopang agar tidak mudah ambruk.”
Meski mengikuti ceramah setelah makan siang bukanlah perkara mudah, mereka tampak mulai bersemangat mencermati layar di ujung kanan ruangan. Ruangan itu berkapasitas 100 orang. Bercat soft orange. Jendelanya cukup lebar, menyajikan pemandangan alam di kanan kiri gedung. Suasana natural pun sangat kental. Apalagi dilengkapi AC di beberapa sudut ruangan.
Tapi justru itulah yang saya khawatirkan. Sementara suasana alam menghiasi ruangan, saya harus menjelaskan materi “text book”. Dasar Islam yang harus difahami setiap umat Islam. Bahasan kesempurnaan Islam agar peserta tidak lagi memandang Islam sekadar ritual ibadah semata. Sebaliknya, aspek akhlak, ekonomi, politik, hukum dan militer masuk juga sebagai ajaran Islam.
“Asas atau dasar dalam Islam adalah aqidah,” kumulai masuk inti materi. “Siroh sahabat rasulullah memberi teladan bagi kita bagaimana aqidah menjadi hal pertama. Sebelum yang lainnya.”
Keceritakan kisah sahabat Saad bin Abi Waqqosh yang tetap tegar memagang aqidah islam meski diboikot mogok makan oleh ibunya tersayang, Hamnah. Juga kisah sahabat Mush’ab bin Umair yang dihadapkan dilema, memilih ibu yang dicintainya atau rasulullah dengan aqidahnya. Mush’ab juga memilih aqidah Islam. Namun tidak seperti Saad, Mushab justru yang dipaksa “mogok makan” oleh ibunya yang keras, Khunnas. Mush’ab dikurung dalam rumah tanpa diberi makan.
“Sehingga…,” ku perhatikan peserta. Satu peserta ikhwan yang didepan mengusapkan batang jari dibawah kelopak mata. Di deretan kursi akhwat. Dua tiga peserta melakukan hal serupa. “…kalau dihadapkan dengan ibu yang tercinta saja mereka lebih memilih aqidah, pastilah dasar aqidah sudah tertanam kuat. Tidak ada manusia yang mampu menggoyahkan pondasi ini, apalagi sekadar lawan jenis yang belum tentu menjadi jodoh….”
Setelah terhenti sejenak, kulanjutkan dengan penjelasan bina’ alias bangunan Islam yaitu Ibadah dan akhlaq. Kemudian muayyidat (pilar)nya yaitu dakwah dan jihad. Kujelaskan satu-persatu. Juga konsep “Syumul Makan” dan “Syumul az-Zaman” yang mendampingi “Syumul Al Minhaj”. Beberapa peserta yang duduk di depan masih sesekali mencatat di buku tulis.
Empat puluh lima menit berlalu, satu ikhwan di baris kedua kulihat terlelap dengan sandaran kursinya. Sedang satu peserta akhwat yang didekat jendela juga tengah pulas dibahu temannya. Kuakhiri ceramah, “Baik, sampai di sini bahasan syumuliah al Islam, semoga bermanfaat. Saya kembalikan kepada moderator, silakan..”
Speech “Syumuliatul Islam” after Lunch
1 Tanggapan sejauh ini »
RSS Komentar · URI Lacak Balik


Dede berkata,
23 Oktober 2009 @ 3:25 am
ijin copas ya..