Kegiatan Mahasiswa Sulit Menembus Media?

fase1Saat menerima SMS sebelumnya, saya menduga-duga saja persoalan apa yang mesti dipecahkan. Singkatnya, panitia Forum Aktivis Ekonomi (FASE) BEM FE Unnes meminta saya untuk mengisi acara di Gedung C3 FE Unnes jam 10.15 WIB. Ketua Departemen Politik dan Kelembagaan BEM FE Unnes Citra Lardiana menyodorkan materi “LK Go Public”, namun penjelasan lebih rinci akan ‘menyusul’.
Sambil menunggu surat panitia masuk, 18 November 2008 malam itu saya siapkan materi. Saya mengingat-ingat pertanyaan apa yang sering dilontarkan para pengurus lembaga kemahasiswaan. Itulah yang akan kujadikan panduan mengisi materi di depan para mantan aktivis SMA yang rutin digodog BEM FE Unnes di Gedung C3 FE Unnes empat hari berikutnya.
Aha! Saat masih aktif di pers kampus dan sering diskusi dengan pengurus BEM, yang sering muncul adalah, “Bagaimana caranya agar kegiatan bisa dimuat di media massa?” Sederhana, tapi disitu memang titik tekannya. Maka macam-macam cerita pengalaman mereka pun muncul.
Alih-alih meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari apa yang menjadi kebutuhan media, banyak teman-teman yang langsung mencoba jurus usaha dan coba! Try and error-lah. Tak ada yang salah. Hanya saja, menjadi repot kalau prinsipnya yang penting usaha.
Ambil contoh, malam-malam sebelum kegiatan dilakukan ada teman yang SMS. Intinya, minta nomor kontak wartawan untuk diminta meliput kegiatan. Ada juga yang mencoba mengirim press release kegiatan lewat surat. Semua bagus, dan memang begitulah salahsatu caranya. Hanya menjadi repot kalau tidak lihat dulu kegiatannya, produknya. Ada nilai beritanya nggak?
Ya, nilai berita. Pengurus dan panitia pun perlu membuat kegiatan dari “bahan dasar” unsur nilai berita. Ada unsur aktualnya, kedekatan dengan pembaca, keterkenalan orang yang terlibat, dampaknya besar atau yang menyangkut ketertarikan manusia (human interest). Dalam copian yang saya bagikan kepada peserta, tercantum pula apa yang disebut human interest. Seperti ketegangan, ketidaklazimana,konflik atau simpati. Semakin banyak unsur berita disandang sebuah kegiatan, semakin besarlah nilai beritanya.
Kalau sudah begitu, tak usah minder memberitahu wartawan. Lha wong yang mereka cari ada, pastilah mereka datang. Ingat pepatah, ada gula ada semut. Ada nilai berita, ada yang meliput. So, mengasah kepekaan nilai berita jadi PR para aktivis sekarang. Nggak harus mengandalkan demo terus kan?

1 Tanggapan sejauh ini »


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda