Arsip untuk Juli, 2008

Sekolah Tanpa Kasih Sayang

Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2008 mengambil tema Saya Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif. Jika tema itu disematkan kepada kondisi anak Indonesia sekarang, harus diakui masih jauh api dari panggang. Alih-alih dibentuk karakter mandiri dan kreatifnya, anak-anak di negeri ini justru terancam berbagai tindak kekerasan. Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Mengakhiri Privilese di Rutan

Terungkapnya persekongkolan Artalyta Suryani dan Jaksa Urip Tri Gunawan mencengangkan masyarakat. Bagaimana tidak, kedua terdakwa kasus suap itu menyusun skenario dari balik rumah tahanan (rutan). Artalyta yang sedang ditahan di rutan Markas Besar Polri bisa menelepon Urip yang ditahan di tempat berbeda yakni rutan Polda Metro Jaya. Patut menjadi pertanyaan, layakkah tahanan tertentu dapat menelepon dari rutan? Terlepas dari pernyataan kelalaian yang disampaikan Polri, privilese seperti itu menyebabkan esensi penahanan hilang. Kabur pula maksud dijebloskannya mereka ke dalam rutan. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Krisis Listrik Cermin Kegagalan Pemerintah

Krisis listrik yang melanda Jawa-Bali menjadi cermin kegagalan pemerintah secara fundamental. Betapa tidak, dasar negara ini jelas menegaskan bahwa kekayaan alam harus dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Menanti Profesionalisme Pejabat

Dimulainya kampanye pemilu 2009 berarti dimulai pula aktivitas ekstra para pejabat. Mereka mempunyai pekerjaan baru, kampanye. Seperti terlihat di berbagai pilkada, para pejabat masih diyakini partai politik (parpol) mampu menggaet massa. Aktivitas kampanye ke berbagai tempat tentu akan menguras tenaga dan menyita waktu mereka. Di sisi lain, kewajiban sebagai abdi masyarakat tidak berkurang. Malah bertambah berat dengan masa jabatan yang hampir habis. Baca entri selengkapnya »

Komentar (3) »