Mengundang Kekayaan

agarkekayaan-3d.gifUang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Begitu sering ungkapan itu mengemuka diantara teman-teman kampus. Entah itu saat mau mengadakan kegiatan, kesulitan membayar SPP atau membicarakan masa depan setelah kuliah. Yang terakhir ini memang lebih serius dan terasa.
Kalau masalah kegiatan kampus atau kuliah, kita masih bisa gondelan pada birokrat, rekan atau senior yang akrab. Ya minimal untuk sharing mencari jalan keluar. Paling tidak akan diberi motivasi, bisa juga dipinjami dana, atau syukur-syukur bersedia menjadi donatur. Ini kalau di kampus. Lha kalau masalah masa depan setelah lulus? Boro-boro disiapkan, membayangkan saja ada yang mual.
Saya sendiri mengalami ketika lulus SMA. Bertahun-tahun belajar berbagai mata pelajaran dari bakteri mikroskopik sampai tata surya rasanya kok tidak berguna. Setidaknya sampai saat itu. Nilai bagus, peringkat kelas, teman-teman sekolah ternyata juga tidak membantu. Lha bagaimana tidak, kalau ternyata perusahaan-perusahaan tidak mencari karyawan baru setiap tahun seperti perguruan tinggi merekrut mahasiswa baru. Kalau toh ada juga pilihannya terbatas. Tidak bisa memilih sesuai minat seperti memilih program studi waktu SPMU.
Saya menjadi yakin, puncak harapan sekaligus kecemasan sebenarnya terjadi saat-saat akhir masa SMA itu. Bukan di bangku kuliah, apalagi menjelang wisuda. Karena di kampus, kita sudah menjalankan planning. Sudah action. Entah kita membuat rencana sendiri atau menyerahkan kepada pihak lain. Bahkan kalau merasa tidak punya rencana sekalipun, sebenarnya kita sudah menjalankannya. Artinya, kita, merencanakan untuk terombang-ambing tanpa kepastian.

Merancang Masa Depan
Membuat rencana memang selalu menarik untuk dibahas. Karena ini awal, penting dan menentukan masa depan. Saya mengenal beberapa adik angkatan di kampus yang begitu bersemangat. Mereka membuka usaha makanan kecil di sekitar kampus, mengikuti seminar dan pelatihan bisnis sampai bergabung dengan tim marketing perusahaan.
Ada diantaranya yang sudah sukses, dengan ukuran mampu membiayai hidupnya sendiri. Ternyata, banyak pengusaha besar juga memulai dengan langkah seperti ini. Memulai bisnis dari nol. Seperti itulah mereka membangun diri. Bertekad mencoba, walaupun kemudian gagal. Mencoba memperbaiki lagi, lagi dan begitu seterusnya. Mereka menguji diri seberapa kuat karakter dan mental yang dimiliki.
Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang belum cukup nyali, tapi keinginan berbisnis selalu menyala. Merekalah yang menjadi prospek para pengusaha sungguhan. Maka muncul Greenleaf, Entrepreneur University, sampai MLM semacam CNI dan Tianshi yang menawarkan pelatihan, praktik sekaligus menyediakan mentor. Semua ingin membantu mereka menjadi kaya. Artinya, kita menyerahkan rencana masa depan kepada perusahaan-perusahaan itu. Agar potensi kita dimunculkan, diarahkan dan direalisasikan. Sementara kita terlibat dalam prosesnya, secara sadar.
Ini ada lagi yang lebih nekat. Menyerahkan masa depan sepenuhnya, seutuhnya tanpa tawar. Pasrah bongkokan, kata orang jawa. Pokoknya bermodal keyakinan, totally trust. Tidak melibatkan otak kiri sama sekali. Tidak ada hitung-hitungan BEP atau ROI. Mengoptimalkan fungsi otak kanan sepenuhnya. Mengaktifkan imajinasi, intuisi dan spiritual. Tentu saja sulit, tapi hasilnya dahsyat!
Pengasuh Majelis Wisata Ruhani Anif Sirsaeba membuktikannya. Dalam pengajian di Masjid Ulul Albab Unnes, Ustadz Anif- demikian akrab disapa membacakan hadits tentang sedekah. Maka ketika dia menerima income Rp 30 juta dari rekan bisnisnya, sepertiganya langsung disumbangkan. Tak berapa lama, rekan bisnis lain menelepon untuk mempercayakan proyek percetakan senilai Rp 50 juta. Tiga hari kemudian, rekan bisnis yang lain mengirim SMS untuk mentransfer royalti senilai Rp 40 juta. Total Rp 100 juta, 10 kali lipat dari yang disumbangkan. Itulah satu diantara 27 kisah serupa yang ditulis Anif Sirseba dan Mansur Abdul Hakim Muhammad dalam buku Agar Kekayaan Dilipatkan dan Kemiskinan Dijauhkan.

Kekayaan Tidak Akan Habis
Dari situ saya menyadari, sumber tandon kekayaan bukan pada keahlian dan pekerjaan. Itu hanya pipanya saja. Dan kekayaan tidak akan habis meski banyak orang bertambah kaya. Alam semesta sangat melimpah. Tidak ada orang miskin karena tidak kebagian sumber kekayaan. Tidak ada yang namanya sumber kekayaan yang terbatas. Kecuali Tuhan bermaksud menentang Dirinya sendiri, kata Wallace D Wattles dalam buku klasik The Science of Getting Rich (Ilmu Menjadi Kaya). Kata Tuhan dalam surat At Taubah: 28, ”…dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena menjalankan perintah Allah), maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-Nya.”
Tuhan menyediakan kekayaan dalam bentuk uang, kesehatan maupun kebahagiaan dengan sangat melimpah. Jauh lebih banyak dari kebutuhan seluruh manusia. Tinggal mengambil saja.
Sayangnya, banyak yang tidak tahu cara mengambilnya. Sehingga yang tahu dan bersungguh-sungguh mengambil, semakin bertambah saja kekayaannya. Sebaliknya, yang tidak tahu makin tenggelam.

Cara Mengambil Kekayaan
Dalam buku laris Berani Kaya Berani Takwa, Anif Sirsaeba menjelaskan dengan gamblang caranya. Ada 15 cara yang diambil dari kitab suci. Namun di sini saya hanya mengutip satu saja. Yang paling dasar.
Berani Takwa! Begitu rumus pertama dan utamanya. Takwa intinya secara sadar dan sengaja mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Tanpa tawar, tanpa nalar.
Takwa berarti berserah diri dengan sadar, mengingat Tuhan dan merasakan kedekatan dengan-Nya. Seperti penumpang kereta api yang percaya kalau masinis akan membawanya sampai kota tujuan. Tak perlu mempertanyakan jalur rel yang menembus gunung, membelah hutan atau melenceng dari jalan raya. Percaya masinis saja, pokoknya sampai.
Apa perlu ragu kalau masinis kesuksesan kita adalah Tuhan melalui kitab suci-Nya? ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” Firman Tuhan dalam At Thalaq: 1-2.
Dengan sudut pandang lain, Rhonda Byrne juga mengungkap rahasia mengambil kekayaan dalam bukunya The Secret. Begitu pula Erbe Sentanu dalam buku Quantum Ikhlas. Keduanya sama-sama menyebut tiga langkah yang harus ditempuh untuk mengambil kekayaan. Bedanya, Byrne mendasarkan pada Perjanjian Baru di Al Kitab sedang Sentanu mengambil inspirasi dari Al Qur’an dan Sunnah. The Secret mengajarkan kalau ketiganya dilakukan secara berurutan. Sementara Quantum Ikhlas menyebutkan, kalau ketiganya harus dilakukan secara bersama-sama.
Mari kita cermati satu per satu. Pertama adalah meminta. Kita tentukan dengan spesifik apa yang kita minta. Lalu kita berdoa dengan segenap pikiran dan perasaan di hati. Sampai terasa ”ngeh”. Biarlah kita tahu apa yang sebenarnya kita minta. Biar kita menimbang-nembang apakah hal yang kita minta benar-benar akan membuat bahagia.
Kedua, yakin. Yakin kalau apa yang kita punya sudah menjadi milik kita. Percaya apa yang belum bisa dilihat mata. ”Kemudian biarkan datang. Jangan mengeluhkan atau mengkhawatirkannya. Jangan memikirkan ketiadaannya. Pikirkan keinginan Anda sebagai milik Anda, benda Anda, harta Anda,” kata Robert Collier.
Ketiga, bersyukur. Uniknya, kita harus bisa bersyukur karena merasa permintaan kita sudah terkabul. Seolah benar-benar melihat, mendengar dan merasakan apa yang kita minta. Padahal belum terkabul. Kata Erbe Sentanu, ini seperti melunasi pembayaran di muka, meski pesanan belum diterima. Bersyukur dahulu sebelum permintaan dikabulkan.
Ternyata, hanya itu yang perlu kita ketahui dan praktikkan untuk mendatangkan kekayaan. Bagaimana semua bisa terjadi? Itu bukan urusan kita. Seperti halnya saat kita ingin menonton televisi. Tidak harus bersusah-susah mempelajari bagaimana televisi bisa menampilkan gambar dari stasiunnya. Cukup menemukan tombol power dan menekan. Gambar bergerak sudah bisa dinikmati.
Urusan kita adalah memperkuat ketakwaan lalu berusaha. Memperbesar tandon kekayaan lalu mengalirkannya. Dan kayaknya kita memang harus mengakui. Semua kekayaan berasal dari Sang Pencipta.
Jadi, yang perlu kita ingat adalah rumusnya. Seperti kata Simone Weil, ”Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan, urusan-Nya lah untuk memikirkan saya.”

4 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Muhammad Taufiq berkata,

    plis fisit: muhammadtaufiq.wordpress.com

  2. 2

    masmuly berkata,

    luar biasa…..sangat bagus artikel antum……

  3. 3

    Iwan Setiawan berkata,

    Artikelnya bagus banget Mas Hamdan. Makasih ya blog ku dah masuk ke blogroll.

  4. 4

    Muhammad berkata,

    @ masmuly: terima kasih. Moga kekayaan dikaruniakan kepada antum
    @ iwan: Blognya mas iwan juga bagus. Saya salut. Terima kasih


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda