Repotnya Laporan Keuangan

Para pembaca, kampusku sedang merayakan ulang tahun. Dies Natalis lah istilahnya. Meriah, karena banyak lomba, kontes, malah sampai wayangan segala. Plus dibumbui seminar-seminar yang menambah suasana ilmiah. Benar-benar ramai kampus ini.
Dari sekian banyak hingar-bingar itu, yang selalu menarik perhatian saya adalah laporan tahunan rektor. Bagaimana tidak, inilah saat perguruan tinggi membuktikan kerjanya, membanggakan prestasinya dan menggambarkan kondisinya. Di sinilah rasa kepemilikan bisa tumbuh. Semua civitas akademika tahu kampusnya sehingga bangga manakala berprestasi dan merasa bertanggungjawab kalau ada yang tidak beres.
Saya membayangkan kalau laporan seperti ini juga disebarluaskan di masyarakat. Wow, betapa merasa memilikinya mereka. Betapa dihargainya mereka. Dan merasa dianggaplah mereka. Apalagi kalau laporanya benar-benar menggambarkan gamblang. Apa saja prestasinya, apa saja kegagalannya, bagaimana kinerja civitas akademika di dalamnya dan bagaimana kinerja keuangannya. Yang terakhir ini penting, karena bagaimana mau berprestasi kalau seandainya kekuarangan finansial. Juga belum bisa disebut berprestasi kalau seandainya yang diraih jauh di bawah potensi finansial.
Tapi saya bsering diingatkan-dengan tegas, masalah keuangan itu sensitif. Hingga digelitik sedikit saja bisa terasa ditusuk. Dan masalahnya bisa panjang. Dari masalah unggah-ungguh, etika kampus sampai mencoreng almamater. Meski saya tak yakin apa hubungannya. Kalau sudah seperti ini, saya cukup tahu diri untuk tidak banyak urun rembug. Orang mata kuliah Akuntansi saya juga mengulang. Biar itu urusan bapak ibu dosen saja.
Saya jadi teringat saat Laporan Pertanggungjawaban BEM FE beberapa waktu lalu. Mulai habis dhuhur saya membacakan laporan yang dilanjutkan tanggapan, sampai maghrib ternyata tidak cukup. Gara-garanya, laporan keuangan! Jadi, format laporan yang dibuat ketua biro keuangan saya, tidak sesuai dengan keinginan peserta kongres meski intinya sama. Beda versi saja tapi cukup membingungkan yang tidak biasa membaca laporan. Begitu alotnya sampai menjelang isya’ baru kelar. Malah diwarnai mati lampu segala. Begitu bahagia sekaligus jengkelnya saya. Bahagia karena akhirnya sama-sama bisa menerima. Jengkel karena kok begitu alotnya.
Saya jadi bertanya-tanya, begitu pentingkah laporan keuangan? Padahal sepanjang membaca laporan tahunan rektor, tak pernah saya temukan laporan keuangan. Lagian, keuangan BEM FE sudah melalui PD 3 dan kabag mawa. Seperti halnya keuangan Unnes yang sudah diperiksa pejabat resmi negara sehingga tidak pernah dilaporkan secara terbuka. Kenapa menuntut laporan ketua BEM Fakultas lebih baik dari laporan Rektor? Apa nanti tidak malah kualat? Lha tidak unggah-ungguh dengan yang lebih tinggi jabatannya. Tidak manut dengan teladannya wong tuwa.

Ungkapkan pendapat Anda