Kalau kecantikan yang Allah diberikan adalah anugerah,
aku ingin mempersembahkan utuh hanya kepada-Nya
Kakak-kakak sering mengingatkanku untuk menjaga pergaulan dengan ikhwan. Sedikit saja aku terlihat akrab, pasti ada saja yang memberi tausiyah. Padahal yang kami bicarakan masalah kegiatan dakwah juga. Begitu juga kalau aku kedapatan SMS-an atau menerima telpon. Pasti ditanya dari siapa, keperluannya apa. Perlakuan yang tidak kulihat pada akhwat seangkatanku. Sampai kini, saat kuliahku memasuki semester kelima.
Kadang aku mencoba mengerti, itulah bentuk perhatian dan kasih sayang kakak-kakak kepadaku. Cara mereka menjaga diriku. Mereka suka memanggilku “barbie”. Katanya, aku mirip dengan boneka itu. Bagiku, panggilan “barbie” menunjukkan sayang mereka kepadaku. Meskipun kadang, aku ingin protes. Aku kan sudah duapuluhsatu tahun!
Ya sudahlah kunikmati saja. Toh yang diberikan Allah pastilah yang terbaik bagi hamba-Nya. Kakak-kakak juga mengatakan kalau pipiku yang sering merah merona adalah anugerah yang harus kujaga. Jangan sampai mengundang fitnah yang menjerumuskan pada dosa.
Aku juga ingin menjaga. Kalau kecantikan yang Allah diberikan adalah anugerah, aku ingin mempersembahkan utuh hanya kepada-Nya. Demi perhatian dan kasih sayang-Nya, aku memutuskan memakai jilbab sewaktu semester satu. Sejak itu, aku mulai mengurangi make up luar. Seminimal mungkin. Asal pantas dan terawat. Itu yang kudapatkan dari kajian muslimah Jumat siang di kampus.
Satu yang belum bisa berubah adalah pergaulanku dengan laki-laki. Entah itu ikhwan, teman sekelas atau seorganisasi. Aku tahu, Islam mengajarkan untuk menundukkan pandangan, merendahkan suara dan menghindari berduaan dengan laki-laki non-muhrim.
Namun salahkah kalau tidak hanya akrab dengan akhwat? Aku ngobrol, bercanda dan berbagi cerita dengan ikhwan juga. Kalau ada yang lucu ya tertawa, kalau sewot ya aku ngomong dan kalau meminta juga kadang sambil merengek. Terus terang, aku belum bisa menjaga nada datar dan kaku serta terus menunduk sepanjang pembicaraan. Aku tahu itu baik, tapi sekarang belum bisa melakukan.
Suatu ketika saat liburan semester, aku kecelakaan. Selama sebulan, aku dirawat di rumah paman di daerah Jepara. Kalaupun ke Semarang, paling satu dua hari. Sekadar melepas kangen dengan teman-teman di kampus. Selebihnya, aku cuma berhubungan lewat SMS dan telepon.
Selama di Jepara, beberapa teman sering menghubungiku. Menanyakan kabarku. Akupun biasa ngobrol dengan mereka. Sekadar mengetahui kondisi kampus atau dakwah. Tidak hanya dengan akhwat dan ikhwan. Teman-teman seorganisasi juga. Salahsatunya adalah seorang mahasiswa se-fakultas.
Dulu dia pernah ngaji dan bergabung dengan dunia dakwah. Sekarang tidak lagi bahkan banyak yang membenci. Setiap membicarakannya, hanya jeleknya saja yang muncul. Angkuh, penghasut, atau pemberontaklah. Konon, dia juga pernah berniat menghancurkan dakwah. Memang ada benarnya. Tapi tidak adakah yang baik dari dia? Tidakkah para ikhwan bisa mendekati hatinya?
Karakternya yang aku kagumi adalah suka membantu, memberi semangat atau bahkan memberi hadiah kecil. Aku pernah diberi souvenir cantik. Dia suka menyeritakan aktivitasnya di organisasi. Termasuk pengorbanan dan perhatiannya terhadap adik-adik angkatan. Namun menurutnya, dia tidak pernah dihargai atas semua yang dilakukan.
Meski tidak lagi berdakwah, dia masih aktif di berbagai yayasan Islam lokal dan dekat dengan beberapa akhwat. Termasuk denganku. Sejujurnya, ketika itu aku tidak ada perasaan khusus kepadanya. Meski dia sering memberiku hadiah, membiarkan HP-nya kupakai sampai sekarang dan datang menjenguk saat bapakku dioperasi. Aku menganggapnya sebagai bentuk persaudaraan sebagaimana ikhwan yang lain.
Sampai suatu hari saat aku baru kembali dari Semarang untuk daftar ulang, dia meneleponku. Dia megatakan kalau selama ini dia memendam cinta kepadaku. Sejak bersama di organisasi dua tahun sebelumnya. “Aku tidak sanggup lagi membendungnya. Sekarang aku katakan sejujurnya kepadamu,” katanya.
Aku kaget. Hampir sejam lamanya dia menelponku. Meski itu bukan kali pertama aku “ditembak” laki-laki, tetap saja aku gugup. Antara haru, takut, juga sedikit tersanjung. Kucoba bersikap tegar.
“Kalau memang serius ya kita menikah. Ntar malah jadinya pacaran. Aku nggak mau.” Kataku meluncur begitu saja, antara sadar dan tidak. Apa yang dibenakku, itulah yang kukatakan. Selama ini, semua yang pernah menyatakan cinta kepadaku mundur begitu kugertak dengan nikah.
“Kalau memang itu maumu, aku siap sekarang. Ibuku juga mengijinkan.”
“Ya tidak sekarang. Aku mau menyelesaikan kuliah dulu.”
“Begitu juga tidak apa-apa. Aku juga bisa menjaga tidak berhubungan sampai kamu lulus.”
Setelah itu, dia sering menelponku. Juga memintaku menghubunginya kalau ada yang ingin aku bicarakan. Kukatakan saja tidak punya pulsa, memang kenyataannya demikian. Dua jam kemudian, dia mengirimkan pulsa yang cukup untuk menelpon sampai telinga panas.
Hari-hari berikutnya, aku bingung apa sedang terjadi. Perlahan, aku mulai membayangkan seandainya dia menjadi pendampingku. Mungkin bisa mendekatkan bapak ibuku, menyatukan mereka. Sehingga akau tidak terus berada di rumah paman. Dia juga akan memperhatikanku, membimbingku yang baru mengenal agama dua tahun terakhir. Meski bukan aktivis dakwah, toh dia tetap taat beribadah. Dia juga berjanji tidak menghalangi aktivitas dakwahku.
Namun aku juga teringat komitmenku terhadap dakwah. Terhadap saudara-saudara seimanku yang sedang memikirkan dakwah, selagi aku tidak bersama mereka. Kalau aku menikah dengan dia, mereka pasti akan kecewa. Terlebih kakak-kakak yang selalu ingin menjagaku. Aku bingung.
Aku pun menyadari janjiku kepada-Nya saat memutuskan berdakwah. Bahwa hanya kasih-Nya yang kuharap. Hanya surga-Nya yang kudamba. Bukan kasih manusia. Kalaupun aku menikah, aku hanya ingin memilih lewat doa dan sholat istikharah bukan lewat mata dan perasaanku. Aku ingin suamiku kelak hanya menjadi sarana kasih-Nya di hatiku. Aku ingin hanya Allah yang bertahta di hatiku.
Tapi mungkin terlambat. Terlanjur sulit aku melupakannya. Sehari-hari hanya dia yang memenuhi pikiranku. Apalagi setiap hari, dia menelponku. Mengajakku ngobrol maupun berbagi cerita. Aku pun mulai nyaman mendengarnya. Ya Allah, apakah aku terkena virus merah jambu? Ataukah ini cara-Mu mengirim jodohku?
Aku sudah berusaha menjernihkan pikiranku. Tapi sulit. Aku juga mulai bercerita kepada akhwat yang kupercaya. Mereka menceramahiku banyak hal. Dari aturan pergaulan, pacaran, pernikahan Islami sampai kepercayaan terhadap dakwah. Sesuatu yang sudah pernah kudengar semua. Aku bahkan sering menyampaikannya kepada adik-adik angkatanku. Tapi biarlah, kudengarkan saja. Mungkin hatiku sedang beku, pikiranku sedang sakit. Aku butuh saudara-saudara untuk menguatkan niatku.
Pembaca, begitu besar perhatian mereka terhadapku. Begitu teguh mereka menyimpan aibku. Sehingga aku merasa, kasih-Nya telah dilimpahkan padaku. Sekarang. Tanpa menunggu pernikahan. Tanpa menunggu aku mempunyai suami. Karena suami, bisa datang, bisa tidak. Bisa menemani selamanya, bisa pergi tiba-tiba. Namun saudara-saudara seakidah yang penuh kasih, mereka selalu ada. Allah yang mengirim mereka untukku. Allah yang akan mengganti kalau ada yang pergi. Ya Allah, kuatkanlah hatiku, tunjukkan langkahku. Aku cinta pada-Mu. (Lita Mazida)
Kampus Sekaran, 16 Februari 2008


Muhammad Taufiq berkata,
19 Juli 2008 @ 4:45 pm
plis fisit: muhammadtaufiq.wordpress.com
Hanny's berkata,
2 November 2008 @ 2:56 am
hanya dengan istiqomah maka keteguhan Iman kan tetap terjaga.
Salam Ukhuwah Ya Akhi..
esy berkata,
8 November 2008 @ 7:10 am
aswrwb
afwan, mank benar rasa cinta adalah sebuah anugerah tapi yang perlu kita ingat cinta yang paling hakiki adalah dengan ALLAH. So,berdoalah semoga antum tidak keluar dari jalur yang ada. Salam ukhuwah ya…
Muhammad berkata,
17 November 2008 @ 5:55 am
#2 Sepakat ukh. Soga kita tetap istiqomah di jalan-Nya. Sebenere ini cuma cerpen fiksi waktu belajar nulis di Basmala si.. Afwan
Lusi berkata,
19 November 2008 @ 9:25 am
afwan!!
bole minta saran gug gmana siyh biyar terus istiqomah..????
Muhammad berkata,
20 November 2008 @ 7:12 am
#6 Waduh, bingung jawabnya. Lebih validnya, tanya ustadz ustadzah kali ya ukh. Ya kalau setahu q ya banyak do’a, minta istiqomah. Trus membaca dan merenung secara teratur. Terakhir, menjaga diri dalam komunitas orang-orang baik. Ato gimana ya….