Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam. (QS Al An’am: 162)
Aku mulai mengenal dunia dakwah ketika masuk mulai kuliah. Saat itu, aku tinggal di kos binaan yang dikelola sebuah pesantren mahasiswa. Hampir semua penghuni kos adalah aktivis dakwah di kampus. Mereka aktif di kerohanian islam, lembaga kemahasiswaan dan organisasi lain.
Keseharian di kos sangat islami. Setidaknya dibanding bayangan awal yang hanya melihat kehidupan mahasiswa dari sinetron. Keluarga besarku tidak ada yang pernah kuliah sebelumnya. Maka aku bersyukur bisa tinggal bersama senior yang rajin sholat berjamaah dan banyak membaca al Qur’an. Tentu saja, kami para mahasiswa baru diajak serta.
Lagu-lagu yang diputar juga islami namun asing ditelingaku. Satu-satunya yang kukenal adalah lantunan Raihan. Lainnya, aku belum pernah mendengar. Dari lagu-lagu yang membuatku geli karena bass dan treble-nya suara manusia sampai lagu perang yang membuat merinding. Tidak ada Peter Pan, Avril Lavigne, apalagi dangdut live. Setidaknya sampai kami datang membawa tape sendiri.
Setiap habis subuh, ada kajian kitab Riyadhus Sholihin yang memuat kumpulan hadits. Karya besar Imam Nawawi ini pernah kupelajari di pesantren. Sebelum kuliah, aku memang pernah mondok di pesantren kecil yang seluruh santrinya adalah siswa SMP dan SMA. Kyainya adalah salahsatu pendiri yayasan Islam yang mengelola banyak sekolah di kampungku.
Tentu kajian di kos binaan berbeda dengan di pesantren. Kalau di pesantren kami maknani dengan kitab kuning, di kos cukup membaca terjemahnya dalam bahasa Indonesia. Kalau di pesantren yang membacakan adalah ustadz, di kos kami sendiri yang secara bergiliran membacanya. Kalau ada cukup waktu, dilanjutkan dengan diskusi.
Saat diskusi itulah yang paling kami tunggu. Di situlah aku dan seluruh penghuni kos dapat beradu pendapat tanpa memandang senioritas. Seringkali aku dan dua temanku yang juga pernah mondok ”membantai” pendapat senior yang banyak menasihati namun tidak tahu dasarnya. Kami yang setiap hari diarahkan dan dinasehati senior bisa mencari pembenaran atau malah berganti ”menasihati” di acara itu. Apalagi kalau melebar ke masalah fiqih, bertambah seru meski sama-sama tidak punya dasar ilmu yang kuat.
O ya, ada juga pengajian khusus bagi penghuni baru yang berjumlah tujuh orang. Waktunya seminggu sekali. Gurunya dari kos binaan juga, tapi tidak satu kos dengan kami. Awalnya, aku tidak tertarik. Materi pengajiannya seputar Allah, Rasul, atau Al Qur’an. Sangat dasar, mirip pelajaran kelas empat Madrasah Ibtida’iyah (MI). Apalagi waktunya malam, saat makan malam, mengerjakan tugas kuliah atau jalan-jalan.
Tiga bulan berlalu, sebagian teman-teman mulai mempertanyakan kedalaman ilmu agama para senior. “Harusnya kan berilmu dulu baru berdakwah,” seloroh seorang teman. Ada yang lebih dalam, “Kalau berdakwah tanpa ilmu memadai bisa-bisa sesat dan menyesatkan.”
Begitulah yang terjadi hampir setiap hari. Para senior selalu mengajak kami setiap ada pengajian kerohanian islam maupun kegiatan dakwah lain. Kami lebih sering menolak, kecuali satu teman yang belakangan kuketahui pernah aktif berdakwah semasa SMA. Aku sendiri lebih suka mengikuti pelatihan jurnalistik dan olahraga.
Hampir setahun berjalan, beberapa teman mulai merencanakan keluar dari kos binaan. Waktu itu aku masih ragu. Banyak kelemahan kos dan sikap senior yang masih belum bisa kuterima. Hanya satu yang membuat aku kagum sekaligus malu. Ilmu keislaman mereka memang tidak seberapa, namun usaha untuk menerapkannya luar biasa. Kebanggaan terhadap Islam juga begitu terasa dalam keseharian. Kondisi yang belum pernah kubayangkan apalagi kurasakan sebelumnya.
Aku berfikir kalau aku keluar aku pasti akan kehilangan lingkungan yang kondusif untuk menjalankan islam. Harapan lebih bebas memilih aktivitas di kampus juga belum tentu terwujud. Sementara kalau masih tinggal di kos binaan aku harus menjadi aktivis dakwah. Aku sadar, keputusan yang akan kuambil menentukan jalan hidupku.
Sejak itu, aku mulai mendiskusikan dakwah. Aku mulai tertarik mengetahui lebih banyak tentang dakwah. Tak puas dengan hasil diskusi dengan para senior, aku menayakan buku-buku yang dapat menjelaskan dakwah yang mereka jalani. Diantara puluhan buku yang kupinjam, yang sangat berpengaruh bagiku adalah Nadzaratu fii Risalatit-Ta’alim yang ditulis Muhammad Abdullah al Khatib bersama Muhammad abdul Halim Hamid dan Manhajul al Imam Al Banna: Tsawabit wal Mutaghoyyiraat karya Jum’ah Amin Abdul Aziz.
Mulailah aku mengikatkan diri terhadap dakwah. Bertekad menyerahkan hidup dan mati untuk Allah semata. Semoga allah yang maha membolak balikkan hati memberikan kekuatan hingga akhir hayat. Mohon doa pembaca semua.
Dengan kasih sayang-Nya, 14 Februari 2008

