Langkahnya sangat pelan dan tampak berat. Namun gaya bicaranya masih antusias dan riang. Seperti anak-anak yang baru pulang dari petualangan Dunia Fantasi. “Waktu itu kan habis KKN di Grobogan. Aku di rumah beberapa hari, trus mau balik ke Semarang,” katanya dengan mata berbinar.
Namanya Nita. Rumahnya di Jepara, sedaerah denganku. Sewaktu aku masih aktif di koran kampus, dia salahsatu reporter yang kuandalkan. Berbulan-bulan tidak bertemu, aku mendapat kabar kecelakaan menimpanya.
“Perempatan Kalipucang tahu kan? Itu ke selatan terus kan jalannya lurus dan sepi. Aku memacu sepeda motor ya agak kencang. Agak kencang sedikitlah.”
“Sedikitnya Nita ya tetap kencang,” kataku berseloroh.
“Mas tahu sendirilah kalau aku bermotor. Lha tiba-tiba ada seorang ibu nyelonong. Menyeberang jalan sambil menggandeng tangan anak kecil. Di tengah jalan, ibunya berhenti. Mau mundur, trus maju lagi. Kelihatannya ragu-ragu, gitu. Ya sudah aku arahkan ke kiri, ke luar jalan,” katanya.
“Nggak tau menabrak apa. Wong helmku juga sampai pecah menjadi dua. Trus nggak tahu lagi gimana,” ceritanya. “Tahu-tahu sudah ditolong banyak orang. Di bawa ke dokter. Itu kecelakaannya kan di depan rumah dokter.”
“Aku juga belum begitu sadar waktu ditanyai orang-orang, ‘Mbak, rumahnya mana? Nomor teleponnya berapa?’ Aku diam saja. Aku tidak menjawab. Ya pada membiarkan. Trus aku sempat berfikir. Aku kan pamit ke Semarang. Kok harus menghubungi rumah. Tapi aku juga sempat melihat motorku yang rusak. Helmku juga pecah. Sampai sekarang kalau malam kepalaku mterasa pusing, mungkin karena benturan. Untung waktu itu tasku penuh pakaian dari tempat KKN, jadi yang kena tasnya. Paling yang kena kakiku dan sedikit pundak. Sekarang sudah mending sudah bisa berjalan.”
Aku terus mendengarkan.
“Waktu aku menelepon rumah, kebetulan yang menerima adikku. Kan aku bilang dengan pelan,’Dik, matur bapak. Mbak Nita dawah.’ Lha malah di rumah berteriak,’Bu, Mbak Nita kecelakaan.’ Ya ibu langsung histeris. Bapak yang dikabari ketika masih di ladang malah menangis. Seringan-ringanya kecelakaan, bayangan beliau ya seperti mbak dan ibu.”
Mbaknya yang kuliah di Jogja memang pernah mengalami kecelakaan. Kakinya patah dan sampai berbulan-bulan di-pen. Setelah sembuh dan pen yang ditanam diambil, tak berapa lama berselang ibunya kecelakaan. Kakinya juga patah dan sempat menjalani operasi di rumah sakit. Waktu itu aku masih di koran kampus. Tiap akhir pekan Nita ijin pulang untuk merawat ibunya.
“Baru beberapa minggu pen di kaki ibu diambil, giliran aku jatuh.”
“Kakimu di-pen juga?” tanyaku ragu.
“Alhamdulullah tidak sampai di-pen. Tapi sejak jatuh sampai hari ketiga aku tidak bisa jalan samasekali. Kalau mau kemana-mana minta gendong bapak. Kasihan bapakku ya. Setelah itu pake kursi roda sampai agak mending. Trus pake tongkat. Sekarang sudah banyak kemajuan meski belum sembuh total. Sudah bisa berjalan pelan-pelan.”
“Karena ada pemadatan kuliah, ya aku di Semarang. Lha Mas sekarang sibuk apa?”

