Sementara program konversi minyak tanah masih menemui kendala, pemerintah kembali membuat rencana kebijakan BBM. Ide kali ini adalah pembatasan premium dan solar bersubsidi. Masyarakat yang akan menggunakan BBM bersubsidi diharuskan memiliki kartu pintar (smart card) terlebih dahulu. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk Februari, 2008
Smart Card, Kok Buru-buru?
Ingin Kuberikan Cinta Hanya Kepada-Mu
Kalau kecantikan yang Allah diberikan adalah anugerah,
aku ingin mempersembahkan utuh hanya kepada-Nya
Kakak-kakak sering mengingatkanku untuk menjaga pergaulan dengan ikhwan. Sedikit saja aku terlihat akrab, pasti ada saja yang memberi tausiyah. Padahal yang kami bicarakan masalah kegiatan dakwah juga. Begitu juga kalau aku kedapatan SMS-an atau menerima telpon. Pasti ditanya dari siapa, keperluannya apa. Perlakuan yang tidak kulihat pada akhwat seangkatanku. Sampai kini, saat kuliahku memasuki semester kelima. Baca entri selengkapnya »
Saat Kuputuskan Berdakwah
Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam. (QS Al An’am: 162)
Aku mulai mengenal dunia dakwah ketika masuk mulai kuliah. Saat itu, aku tinggal di kos binaan yang dikelola sebuah pesantren mahasiswa. Hampir semua penghuni kos adalah aktivis dakwah di kampus. Mereka aktif di kerohanian islam, lembaga kemahasiswaan dan organisasi lain. Baca entri selengkapnya »
Kecelakaan Ketiga
Langkahnya sangat pelan dan tampak berat. Namun gaya bicaranya masih antusias dan riang. Seperti anak-anak yang baru pulang dari petualangan Dunia Fantasi. “Waktu itu kan habis KKN di Grobogan. Aku di rumah beberapa hari, trus mau balik ke Semarang,” katanya dengan mata berbinar.
Namanya Nita. Rumahnya di Jepara, sedaerah denganku. Sewaktu aku masih aktif di koran kampus, dia salahsatu reporter yang kuandalkan. Berbulan-bulan tidak bertemu, aku mendapat kabar kecelakaan menimpanya. Baca entri selengkapnya »
Nyaris Dikubur Masal
Perlahan aku terangkat dari pembaringan. Terasa ringan, pelan lalu terjun bebas melesat ke bawah. Kesadaranku tertinggal di belakang. Aku tidak tahu hendak dibawa kemana. Jelasnya, aku masih dalam kondisi berbaring. Saat mulai bergerak perlahan, kakiku berada di depan. Baca entri selengkapnya »
Family Day
Family day, begitu kami menyebut. Tidak ada target program dan deadline di sana. Anggota tim berkumpul, membicarakan kesan selama bekerja dan berbagi cerita. Tanpa pembawa acara, tanpa mata acara. Ngobrol ke sana ke mari sambil menikmati teh dan makanan kecil.
Jadi kalau sebuah tim mulai jenuh, kehilangan semangat atau kerja sudah sedemikian mekanis, itulah saat family day digelar. Pernah satu kali saya menjadi ketua panitia pengarah sebuah acara yang melibatkan ratusan mahasiswa. Dua pekan menjelang hari H, saya menghubungi ketua panitia pelaksana. Ternyata, persiapan tim pelaksana belum matang. Sebagian panitia juga masih memperpanjang liburan di rumah. Baca entri selengkapnya »
Kebaikan yang Terlupakan
Suatu saat, aku mendapat tugas sebagai ketua panitia pelaksana sebuah program kerja. Ada lima orang dalam timku. Aku sendiri, dua laki-laki dan dua perempuan. Dua bulan berlalu, kinerja tim belum terlihat. Persoalan yang harus kami pecahkan belum juga menemukan titik cerah. Padahal menurut panitia pengarah, timku terdiri dari orang-orang terbaik.
Sambil tetap menjalankan program, aku mulai menemui mereka satu persatu. Berdiskusi tentang program, peluang dan hambatannya serta mengukur kemajuan tim. Hal yang tak pernah aku lupa adalah membahas rekan kerja, sesama anggota tim. Baca entri selengkapnya »
Nilai Kosong
Semester ganjil 2008, aku mengambil mata kuliah Koperasi. Dosen pengampunya seorang doktor muda yang baru setahun promosi. Seorang teman yang dibimbing skripsinya tidak pernah berani menelepon. “Marah-marah kalau ditelepon,” kata temanku.
Di kelas, sang doktor kerap mengritik pengurus koperasi yang tidak memperhatikan keluhan anggota. “Anggota koperasi yang tidak puas akan ngomong ke tetangganya. Akibatnya, koperasi makin tidak diminati masyarakat,” terangnya. Baca entri selengkapnya »

