“Lebih bijaksana kalau kita menempatkan diri sebagai makmum dulu. Mempelajari karakteristik masyarakat dan mengenal pemimpinnya,” pesan yang disampaikan sang ustadz. Ahad sore itu, beliau membahas dakwah masyarakat di hadapan peserta pengajian. Sebagian besar adalah aktivis dakwah kampus yang mulai merambah masyarakat. Mereka nampak antusias. Ruang berkapasitas seratus orang itupun makin hidup.
Tidak ada rumus pasti dalam dakwah masyarakat,” jawab sang ustadz kepada penanya yang bersila di pojok depan. “Rasulullah mendekati Abu Bakar dengan menikahi putrinya. Walisongo dulu juga begitu, menikahi putri raja untuk berdakwah. Ada yang berniat mengikuti?” Spontan, “grrr” pun menyeruak mengalahkan bising kendaraan di luar.
Sang ustadz melanjutkan cerita dengan sahabatnya di Yogyakarta, “ketika datang, beliau langsung mengadakan pengajian dan mengundang tokoh agama setempat. Pengajian pun berlangsung tanpa kehadiran sang tokoh. Pengajian berikutnya, diundang lagi. Belum juga nampak! Pengajian pun terus berlangsung.”
Sampai pengajian kesebelas, sang tokoh tiba-tiba hadir. “Saya penasaran dengan kegigihan kalian. Maka, saya datang memenuhi undangan kalian yang kesebelas ini,” kata sang tokoh. Ternyata beliau masih menyimpan sebelas undangan yang sebelumnya diterima.
Sang ustadz juga memberi saran,” tidak perlulah kita datang ke masyarakat dengan konsep-konsep besar dan rumit.” Dakwah bukan berarti harus menyampaikan ceramah sendiri ke masyarakat. Bahkan ajakan kebaikan yang sederhana akan sulit diterima masyarakat kalau kita sendiri yang menyampaikan.
Namun kalau yang menyampaikan tokoh yang dipercaya, mereka langsung manggut-manggut. “Makanya, temukan dulu pemimpinnya. Baru visi dakwah kita masuk,”tutup sang ustadz.

