“Aku tidak mau lagi di majelis, setelah ini,” katanya pelan. Aku sedikit kaget, menebak apa yang terjadi menjelang tutup buku majelis kerohanian. Hampir setahun aku memimpin, belum pernah dia berkata seperti itu. Biasanya, dia menceritakan permasalahan di kerohanian dan meminta masukan.
Statusnya di majelis adalah anggota biasa. Namun diantara anggota lain, dialah yang menunjukkan semangat kerja paling tinggi. Kalau ada tugas penting yang tidak tertunaikan, hampir selalu dia yang menyelesaikan. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk Januari, 2008
Emosi Sesaat
Temukan Pemimpin, Baru Visi
“Lebih bijaksana kalau kita menempatkan diri sebagai makmum dulu. Mempelajari karakteristik masyarakat dan mengenal pemimpinnya,” pesan yang disampaikan sang ustadz. Ahad sore itu, beliau membahas dakwah masyarakat di hadapan peserta pengajian. Sebagian besar adalah aktivis dakwah kampus yang mulai merambah masyarakat. Mereka nampak antusias. Ruang berkapasitas seratus orang itupun makin hidup.
Tidak ada rumus pasti dalam dakwah masyarakat,” jawab sang ustadz kepada penanya yang bersila di pojok depan. “Rasulullah mendekati Abu Bakar dengan menikahi putrinya. Walisongo dulu juga begitu, menikahi putri raja untuk berdakwah. Ada yang berniat mengikuti?” Spontan, “grrr” pun menyeruak mengalahkan bising kendaraan di luar. Baca entri selengkapnya »

